XtGem Forum catalog

Kidnesia Online

Kamis 25 Februari 2010

Tahun 1400 - 1499


Tahun 1482: Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran (Kerajaan Pakuan) menjadi nama populer setelah sebelumnya dikenal sebagai Kerajaan Sunda. Di tempat lain, pada tahun 1486 Zainal Abidin menjadi Sultan Ternate, hingga tahun 1500. Sementara pusat pemerintahan Majapahit dipindahkan ke Kediri juga pada tahun 1486.

Kerajaan Pakuan Pajajaran
Sebagian orang menyebutnya sebagai Kerajaan Pakuan. Sebagian lagi menyebutnya sebagai Pajajaran. Tetapi sesungguhnya Pajajaran menunjuk pada dua hal:

Pertama, sebagai nama pusat pemerintahan raja-raja Kerajaan Sunda.
Kedua, nama itu menunjuk pada awal pemerintahan baru di mana dua kerajaan bersaudara yang sudah ada sejak lama, (Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) kembali disatukan di bawah kekuasaan satu raja.
Kerajaan Sunda dan Galuh itu pada tahun 1482 berada di bawah pemerintahan Sri Baduga Maharaha.

Munculnya istilah “Pakuan Pajajaran”
Istana atau kedaton tempat tinggal raja yang berada di sekitar kota Bogor disebut sebagai “pakuwuan” atau “pakuan”. Menurut sejarah, di pusat pemerintahan itu berdiri beberapa bangunan kraton yang letaknya pajajar (sederetan, sejajar). Diperkirakan ada lima bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Suradipati adalah nama keraton induk.

Dari keterangan di atas maka didapatlah pengertian bahwa “pakuan pajajaran” adalah “istana tempat tinggal raja (pakuwuan) yang berjajar”. Lalu kemudian nama Pakuan Pajajaran-lah yang lebih populer karena mudah diingat untuk menunjuk nama kota atau nama kerajaan pada masa itu.

“Awal” Pakuan Pajajaran
Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.

Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.

Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.

Adapun raja-raja yang memerintah di Kerajaan Pakuan Pajajaran adalah:
• Sri Baduga Maharaja (1482 - 1521)
• Surawisesa (1521 - 1535)
• Ratu Dewata (1535 - 1534)
• Ratu Sakti (1543 - 1551)
• Ratu Nilakendra (1551 - 1567)
• Raga Mulya (1567 - 1579)

Keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir pada tahun 1579. Pada tahun itu Pajajaran diserang oleh Kesultanan Banten. Pasukan Maulana Yusuf, sultan Banten memboyong singasana (kursi atau tempat duduk) raja yang disebut Palangka Sriman Sriwacana ke Keraton Surosowan, Banten.

Singasana raja adalah simbol kekuasaan sekaligus menjadi salah satu syarat penting dalam tradisi penobatan raja-raja di Pajajaran. Dengan dibawanya kursi raja ke Banten, maka tidak ada raja lagi yang bisa dinobatkan di Pakuan. Sultan Maulana Yusuf sendiri menganggap dirinya sah meneruskan kekuasaan Pajajaran, karena merupakan keturunan dari salah satu puteri Sri Baduga Maharaja.

Menurut cerita, sisa dari para perwira (punggawa) Pajajaran akhirnya mengasingkan diri ke hutan di daerah Lebak, Banten. Keturunan dari perwira itu sekarang biasa kita sebut sebagai orang Baduy.

Artikel Lain

  • Tahun 1401

    Perang di pusat Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Wirabumi. Majapahit mulai melemah.

  • Tahun 1414

    Parameswara raja di Malaka memeluk Islam. Ia bergelar Sultan Iskandar Syah, setelah menikah dengan putri dari Sultan Pasai.

  • Tahun 1446

    Muzaffar Syah memimpin kudeta di Malaka dan mengambilalih kekuasaan

  • Tahun 1427

    Ratu Suhita mewarisi kerajaan Majapahit dari Wikramawardhana.

  • Tahun 1450

    Kerajaan Bugis berdiri di Sulawesi

Member Login

lupa password? klik di sini

Video Hari Ini